Gonjang-ganjing harga BBM (bahan bakar minyak, sekali lagi, bukan blekberi) membuat hansip-hansip thePoskamling tertarik untuk mengajak berdiskusi di artikel ini. Dipelopori oleh Bli Fendy sebagai moderator yang baru beberapa minggu ini dicalonkan jadi Ketua Persatuan Sepak Bola Planet Mars Cabang Kawah Endurance (yang baru saja dibantai 10-0 juga tadi malam), kami mencoba untuk mengutarakan pendapat pribadi dengan wawasan yang sangat terbatas, jadi mohon dimaklumi yaa kalo banyak pandangan-pandangan yang salah.
Perlu kami tegaskan dengan tulus dan tegas bahwa tulisan di artikel ini hanya having fun, tidak ada kepentingan sama sekali, dan bahkan tidak ada arahanya sama sekali. Jadi kami sama sekali tidak bertanggung jawab klo setelah baca artikel ini banyak kawan2 yang kena gejala-gejala masuk angin, radang tenggorokan atau apa saja yang bisa menjadi alasan untuk tidak masuk bekerja esok hari.
Nah, sebelum terlalu jauh menjelaskan, saya ceritakan dulu yaa tentang hasil survey di Planet Mars yang tidak usah ditelusuri sumbernya, karena teman-teman pasti sudah tau kalo hasil survey yang beredar akhir2 ini itu biasanya palsu. Jadi supaya keren aja artikel ini juga ikut2an mengatasnamakan hasil dari survey. Surveynya cuma berisi satu pertanyaan, yaitu, “Berapa sih harga BBM ideal buat Indonesia?”
Sebagian besar orang pasti akan menjawab, “Kalau untuk rakyat, seharusnya yang semurah-murahnya, dong! Kita harus berani membandingkan dengan negara penghasil minyak lainnya seperti Iran atau Arab Saudi, jangan dibandingkan dengan negara2 cetek lainnya. Negara Indonesia ini kaya loh akan sumber daya alam dan sumber energi. Dan energi itu hajat hidup orang banyak, knapa harus bayar mahal?!!!”
Hansip2 disini berjaga2 agar kenaikan harga BBM dapat diterima dengan baik oleh rakyat, oleh karena itu di artikel ini ada beberapa hal yang mungkin tidak diketahui rakyat, yah, hal2 seperti…..
6. Kita tidak bisa mensubsidi BBM lagi
Yeah, that’s the sh*tty fact. Dengan naiknya harga minyak dunia baru2 ini, tentu saja subsidi BBM yang harus ditanggung negara untuk mempertahankan harga BBM di negara kesatuan ini membengkak. Pengeluaran negara melonjak. Menteri BUMN dalam laporannya menyatakan bahwa uang negara sebesar 200 T telah terbuang cuma2 karena hanya membiayai orang2 yang mempunyai mobil dan motor.
Apa yang bisa rakyat Indonesia perbuat?
Solusi (yang dirasa) cerdas dan mantabnya :
Buang subsidiiii!!!!
Well, beberapa kalangan bilang memang sudah seharusnya kita menghapus subsidi BBM. Mereka beralasan, kalau kita nasionalis, memang seharusnya kita rela harga energi kita menjadi mahal, membiarkan BUMN2 yang berkaitan dengannya mendapatkan keuntungan yang sebesar2nya untuk nantinya membangun infrastruktur untuk rakyat banyak.
Kayaknya penghapusan subsidi BBM disini bisa menjadi solusi untuk mengajarkan rakyat Indonesia untuk lebih menghemat energi. Otomatis ini juga bisa mengurangi subsidi pemerintah dan tidak berpengaruh besar terhadap rakyat kecil. Sembari rakyat berhemat, pemerintah berusaha secepat mungkin membenahi sarana transportasi umum. Clear kan? Ingat intinya cuma kita harus hemat energi dan Kerja! Kerja! Kerja!
Apalagi kalau SBY dan rekan kerjanya rajin mengingatkan dengan gaya prihatin khasnya bahwa negara kita sudah tidak punya uang lagi untuk mengayomi rakyat, rencana2 ini sepertinya bisa berjalan mulus tanpa di demo.
But, well, apa mau dikata, pengambil kebijakan kita emang orang berada yang tinggal di kota, jadi mereka mungkin tidak tahu bahwa solusi ini tidak bisa diterapkan, karena ada alasan ini ……
5. Harga BBM kita itu bisa murah, bisa juga mahal abis!!
Tapi, yah, apa mau dikata, pengambil kebijakan kita emang orang berada yang tinggal di kota, jadi yah, menurut mereka harga premium yang 4500 memang (terlalu) murah. Kadang2 bahkan lebih murah dari harga air mineral yang sekarang ada yang sudah sampai 6000 rupiah. BBM kita. Jadi sudah wajar kalau naik.
Tapi pernahkah Anda bayangkan bahwa harga premium di Papua bisa naik gila2an sampe 20000 rupiah?
Whaaaaaaaaatttt????????
Well, yeah, that’s the fact. Di daerah terpencil, walaupun dengan BBM subsidi, harga pasti naik karena alasan mahalnya biaya transportasi dan lain-lain yang digunakan agar si BBM sampai ke daerah itu dengan selamat. Memang di SPBU harganya normal, tapi di pengecer harganya jadi mengerikan, apalagi kalau sedang langka. Jadi, yah, harganya naik setinggi-tingginya. Nah, ntar kalo udah ga disubsidi? Bisa naik jadi berapa tuh????
Beberapa kalangan memang berkomentar tentang hal ini. Mereka berkata bahwa kesenjangan antara si kaya dan si miskin makin lebar lagi dengan kenaikan BBM ini. Data statistik sudah menunjukkan bahwa apabila terjadi kenaikkan harga BBM maka akan terjadi kenaikkan jumlah penduduk miskin. Apabila harga BBM sekarang dinaikkan lagi, harga bahan pokok dan pelayanan jasa lainnya akan ikut naik juga. UMR rata-rata penduduk Indonesia masih rendah untuk itu.
Solusi (yang dirasa) cerdas dan mantabnya :
Ya sudah lah, gimana kalau subsidinya dialihkan ke pembangunan infrastruktur? Adil kan buat semua? Infrastruktur bagus yang paling bisa nikmatin kan rakyat kecil?
Apalagi yang mencetuskannya adalah Dahlan Iskan. Dahlan Iskan gitu. Reformator PLN! Entrepreneur yang merangkak dari kecil dan mengerti semua permasalahan Indonesia dan bisa mengatasinya dengan kekuatan lobi dan publikasinya. Yeah! Merdeka! Pasti bener!
OK OK, back to topic. Eniwei Pak Menteri bilang daripada buang2 uang 200T buat subsidi BBM, mending kita gunakan untuk pembangunan. Kasihan juga orang2 yang gk punya mobil dan motor tidak bisa ikut menikmati kekayaan Indonesia. Lebih bijaksana kalo uang tersebut kita gunakan untuk membangun infrastruktur.
Pemerintah saat ini lagi giat2nya membangun jalan tol di Sumatra, di Bali, di Kalimantan, Sulawesi, dll. Pemerintah juga lagi giat2nya membangun pembangkit listrik dimana2. Pemerintah juga lagi giat2nya membangun sarana trasportasi, bandara, dan fasilitas umum lainnya. Pemerintah memang sudah menunjukan gelagat bertanggung jawab untuk mencegah dampak negatif kalau2 kebijakan kenaikan BBM ini jadi dijalankan.

Jadi ini bisa menjadi solusi? Jadi kalo rakyat bisa berhemat pemerintah akan membuat negara kita jadi maju dengan percepatan pembangunannya???
Well, sekilas memang terlihat indah, tapi ini juga tidak bisa ternyata, kenapa? Hmm, masalah klasik sih, jangan lupa penyakit kronis bangsa kita,,,,,, yang itu lho, yang ini …..
4. Dialihkan ke infrastruktur? Preeeetttt, dikorupsi lagi pastinya
Klasik, tapi pembangunan infrastruktur memang lebih rentan korupsi daripada subsidi BBM. Dan liat aja tuh saat ini korupsi kian marak gitu. Di TV aja rame abis kasusnya Nazarrudin dan Angelina Sondakh yang membawa nama partai yang orang2nya sekarang lagi mendominasi di pemerintahan saat ini. Mulai dari pusat sampai daerah.
Pembangunan infrastruktur sangat rentan korupsi karena dari pusat sampai daerah bisa mengambil keuntungan, beda dengan subsidi BBM yang pemerintah daerah ga bisa manfaatin buat korupsi. Bank Dunia aja memperkirakan korupsi proyek infrastruktur di Indonesia mencapai 40% dari total nilai proyek. WOW! Bisa dibayangkan kan apa jadinya kalo proyek2 pembangunan ini dikorupsi lagi? Uang 200T yang biasanya buat subsidi itu mungkin nantinya yang jadi infrastruktur cuma setengahnya. Sisanya? Entah.
Yah, Keadaan negara kita memang sadis gini, bung. Jiwa-jiwa semangat anak muda yang nasionalis dimanfaatkan hanya untuk kepentingan golongan2 tertentu.
Kami kasih contoh saja ya seberapa mudahnya ngakalin anggaran negara buat infrastruktur, walaupun cuma denger2 dari kabar angin. Entah benar atau salah hanya teman2 yang sudah berpengalaman yang dapat berkomentar disini.
Sebagai contoh, pemda suatu daerah ingin mengadakan proyek pembangunan jalan sebesar 100 Trilyun. Dari sini pemda tersebut membayar anggaplah 10 Trilyun untuk meloloskan anggarannya tersebut di pemerintah. Iyaa kalo gk mau bayar anggarannya gk akan keluar. Emang aneh negri ini!
Dari sini pemda mengundang kontraktor2 untuk menjalankan proyek. Kontraktor yang berani membayar pemda lebih banyak dia yang menang tender, sederhana kan? Kontraktor ini juga akan mengundang sub-kontraktor lagi dengan cara yang sama. Jadi deh yang awalnya keluar proyek 100 Trilyun karena sudah dipotong 10 Trilun di awal menjadi 90 T, dan terus dipotong2 sehingga jalan yang dibangun nantinya akan jadi korban, baru setahun udah banyak lobang dimana2.
Masalah seperti ini belum beres dan belum tau gmana cara mencari solusinya tapi sudah mau mempercepat pembangunan infrastruktur? Orang2 yang berdiri di birokrasi masih sama tapi sudah mau mempercepat pembangunan infrastruktur? Apa kita gk sebaiknya tunggu saja sampai pemerintahan SBY berakhir? Masalahnya kalo nunggu itu negara kita gk kolaps nih nanti bayarin subsidi BBM kita? Terus jawabannya apa dong? KATAKAN TIDAK PADA KORUPSI?
Sayangnya ini jawaban klise. Bisa mati dulu negara kita kalau apa2 harus nunggu korupsi berhenti. Sampai Indonesia menang lawan MU 10-0 juga bakal masih ada itu korupsi. Kita harus cari cara, dong, untuk membantu rakyat kecil tapi meminimalisasi korupsi.
Solusi (yang dirasa) cerdas dan mantabnya :
Nah kalau subsidi emang ga bisa dihapus, yaudah kita efektifkan saja subsidinya, kan? Jadi subsidi benar2 buat yang membutuhkan saja. Gimana kalo kita strictly hapus subsidi untuk kendaraan pribadi???
Ide cemerlang ini! Jadi cuma kendaraan umum dan rakyat miskin yang dapat subsidi! Apalagi ada alasan konstitusional. Kita tidak bisa menghapus subsidi karena melanggar UU APBN 2012 Pasal 7 Ayat 4. Kalau mau menghapus kita harus mengubah UU dulu. Repot dan memakan waktu lama. Jadi yaudah ga usah dihapus tapi lebih difokuskan ke yang tidak mampu. Bagus kan solusinya?
Caranya bisa macem2 lagi, mulai dari mengharuskan kendaraan pribadi menggunakan Pertamax, atau memberi bantuan langsung bagi yang membutuhkan, seperti yang diusulkan oleh Pak Jero Wacik sang menteri pariwisata yang entah gimana ceritanya berubah menjadi menteri sumber daya.

Eh, apa, Pak Pres? Sumber daya alam? Wah boleh, Pak, ga jauh beda kok sama pariwisata. Yes naik jabatan!
Sayangnya solusi ini juga ga bisa diterapkan (iya lah ga bisa kalo bisa ga akan kita tulis di sini). Why? Ini dia sebabnya …..











Sudah saatnya cabut subsidi BBM untuk golongan MAMPU
Sebenarnya Jero Wacik memang lebih cocok dengan posisinya yang sekarang…berhubung backgroundnya yang dari ITB dan bukan sekolah pariwisata. Tapi intinya memang bakalan susah jadi presiden di negara ini ya. Soalnya rakyatnya tidak produktif tapi apa-apa minta dimurahin. Supaya harga murah harus kucurkan dana, tapi begitu dikucurkan dikorupsi lagi….. stress emang
Hahahaha…negara mental subsidi sih. Mau diapa lagi, udah ketagihan….
Karena perkembangan pembangunan dan perekonomian di setiap propinsi Indonesia berbeda-beda, gmana kalo di ambil kebijakan yang berbeda2 untuk setiap propinsi.
Dari sini masalah bisa diselesaikan satu persatu tanpa harus mengorbankan rakyat kecil.
Sebagai contoh (1) di daerah yang trasportasi umumnya sudah berkembang, kebijakannya pembatasan penggunaan BBM subsidi untuk kendaraan pribadi. (2) di propinsi2 kaya diupayakan untuk menggunakan bahan bakar gas dengan konverter kitnya. (3) didaerah yang rawan macet lainnya pembatasan kendaraan pribadi dengan menaikan pajak kendaraan bermotor. (4) di daerah yang dirasa kurang populer untuk menaikan BBM, subsidi tetap diberikan. dst, kebijakan diambil berdasarkan kondisi setiap daerah.
Di masa depan jika perlu menggunakan tarif BBM yang berbeda untuk setiap propinsi.
setuju yang subsidi untuk umum dan kendaraan bisnis, klo bisa juga jalan tol di balik skema biayanya, truk, bis dan yang berkaitan nadi ekonomi, di murahin, tapi mobil pribadi yang mahal tarifnya, cara pandang negeri ini kebalik, pribadi di utamain, umum di sepelekan…