5 Alasan Bikin JURNAL ILMIAH Tidak Segampang Bacotnya Pemerintah

Seperti yang Anda semua tahu, beberapa saat lalu Diknas mengeluarkan kebijakan baru mengenai syarat kelulusan mahasiswa S1, S2, dan S3. Syarat baru tersebut adalah harus menulis makalah yang dimuat di jurnal ilmiah. Kalau disahkan, anak S1 pun harus menulis sebuah makalah di jurnal ilmiah sebagai syarat kelulusannya. Ini menimbulkan polemik di dunia akademik (wih ada irama cantiknya). Dunia maya yang memang penuh dengan akademisi langsung bereaksi, berdebat, dan lempar-lemparan tombak.

Setelah dikritik ribuan pihak, akhirnya Diknas melunakkan sikap dengan menyatakan bahwa itu hanya “anjuran” dan bukan peraturan yang mengikat. Good! We won! Walaupun Pak Menteri masih bersikeras bahwa seharusnya mahasiswa S1 dapat melakukan ini. Juga orang2 yg ga ngerti bedanya makalah jurnal ilmiah dengan makalah konferensi, tugas akhir mahasiswa, atau artikel komedi di internet.

Mungkin kalau Anda bisa menulis tentang 'Pengaruh Jabatan Kepresidenan Terhadap Ukuran Kantong Mata', Anda bisa masuk 2 jurnal bergengsi ini

Well, saya sudah pernah mengalami pendidikan S1 dan sudah pernah mengalami susahnya menulis makalah jurnal, and I can tell you, it’s friggin’ nearly impossible. Jadi saya ingin kalian semua mengerti seberapa susahnya, agar tidak serta merta ikut bilang, “Yah masa gitu doang ga bisa.” Saya akan jelaskan satu persatu alasannya, yang didasari fakta yang dengan senang hati seperti biasa kami cantumkan link-link nya di sini.

Note: Please remember kita cuma bahas yg buat S1 di sini.

 

1. Penelitian Itu Mahal, Jenderal…

 

Salah satu latar belakang dikeluarkannya peraturan yang kemudian diubah menjadi ‘anjuran’ tadi, adalah karena Malaysia mempunyai jurnal ilmiah 7 kali lipat lebih banyak dari Indonesia. Yup, benar sekali kawan2 yang kami hormati, ini memang alasan paling dasar dan paling awal yang dikemukakan dan ada di surat edaran resminya. Serius. Kami gak mengada-ada.

Wow Malaysia lagi ternyata penyebabnya!

Asik banget ya? Dulu gw pikir cuma orang2 tolol aja yang kerjaannya banding2in sama Malaysia, ternyata kaum berpendidikannya juga. Holysh*t. Ternyata memang apa yang dilakuin Indonesia tu semuanya ujung2nya cuma ga mau kliatan kalah sama Malaysia.

Face it, you never actually give any sh*t about these before Malaysia ‘claimed’ it.

Tapi biar begitu okelah kita hargai alasan Dikti dengan sok mengkajinya secara logis. Well, sebagai peneliti, kami di thePoskamling juga tau betul inti dari kemajuan penelitian itu apa selain kerja keras : DUIT!

Bukan, bukan masalah gaji, bro! Read first before you put derogatory comments below. Ini masalah penelitiannya itu sendiri. Coba pikir, kalau nggak ada uangnya, mau beli alat dan bahan pake apaan kita? Pake prihatin? Gimana mau bayar pengeluaran laboratorium yang super mahal coba, apalagi buat lab yang high-tech.

Dan inilah faktanya : Anda tahu dana riset yang digelontorkan oleh pemerintah Malaysia untuk memperoleh hasil semenakjubkan itu? Jawabannya : BESAR SEKALI, teman2. Menurut Bank Dunia, pada tahun 2006 Malaysia menggelontorkan dana 4 kali lebih besar dari Indonesia, demi bulu hidung Aphrodite!

Punya senjata dan amunisi lebih banyak, jelas menang lah, bocah cilik gundul aja tau beginian, Pak Menteri.

Dengan dana sebesar itu, tentu saja hasil penelitian Malaysia jauh lebih baik. Padahal Indonesia lebih kaya gitu dari Malaysia. Jauh.

Masalah dana ini serius sekali, lho. Kalau memang Diknas jadi mau pake kebijakan ini buat meningkatkan jumlah jurnal ilmiah Indonesia, tanpa mengubah anggaran, well, saya punya perumpamaan yang menggambarkan keadaan ini dengan mudah.

Ada 2 pabrik roti, yang satu sebenarnya punya kekayaan dan modal lebih besar dari yang lain, tapi cuma mau keluar uang sedikit untuk membeli bahan2 roti. Entah kenapa, mungkin uangnya buat beli pesawat buat direktur utamanya. Nah, ujung2nya, pabrik yg lebih miskin menjual lebih banyak roti (ya jelas lah wong duid buat beli bahannya lebih banyak). Si pabrik kaya ini kesel, iri dengki, dan mungkin karena didesak sama direkturnya, manajer2nya harus mencari cara entah gimana buat naikin produksi. Nah, karena manajer2nya juga ga mau ambil pusing, langsung aja bikin pengumuman : Mulai minggu depan produksi roti harus naik 7 kali lipat! Entah gimana caranya!

You, Sir, will need Jesus or Doraemon’s magic multiplier mirror

 

2. Nulis Makalah Jurnal Ilmiah itu, Susah

 

Alasan lain yang dikemukakan mereka adalah, “Anak S1 itu kuliah 4 tahun, lho! Masa menulis aja nggak bisa?”. Hmmm, melihat bahwa pejabat2 terkait adalah mantan rektor, kami bingung juga kenapa mereka tidak tahu susahnya menulis makalah jurnal.

Eh, tapi kita nggak berasumsi mereka ga pernah nulis makalah di jurnal ilmiah serius sebelumnya, lho.

Tapi baiklah, dengan baik hati kita jelaskan kepada mereka. Mulai dari mana, ya? Hmm oke, mari kita mulai dari definisi.  Sir, this will really depend on how you define “menulis”.

Jelas sekali menulis itu bermacam2 kelasnya. Kalau cuma nulis cerpen di Bobo sih anak SMP juga pasti udah bisa. Laporan praktikum? Jelas udah bisa, termasuk copy paste edit nya. Tugas akhir? Tentu saja. Semua kampus juga rata2 mensyaratkan tugas akhir bagi para mahasiswa S1nya.

Kalo ‘menulis’ cerita semi-porno stensilan, Pak Menteri, gw yakin mahasiswa S1 bisa. Kami jamin!

Nah, sekarang yang jadi masalah adalah makalah untuk JURNAL ILMIAH. Well, apa sih itu jurnal ilmiah? Menurut wikipedia:

In academic publishing, a scientific journal is a periodical publication intended to further the progress of science, usually by reporting new research.

Di sini ada kata2 “dimaksudkan untuk mendorong kemajuan ilmu pengetahuan, biasanya dengan melaporkan riset baru.” Riset baru, bro! Berarti sesuatu yang belum pernah dikerjakan/dilaporkan sebelumnya. Memang progress sekecil apapun dapat dimasukkan ke jurnal ilmiah, tapi kalau cuma belajar atau meniru kerjaan yang sudah dikerjaan orang lain? Atau teknologi yang ga masuk akal atau hoax? Masa bisa dimasukin ke jurnal ilmiah??

Blue Energy!! Keajaiban yang akan mengentaskan bangsa dari kemiskinan! Kita ga butuh minyak bumi lagiiii! SBY idolaku!

Masa ngebedah kodok atau bikin lampu countdown di lampu lalu lintas bisa dimasukin ke jurnal ilmiah? Nggak kan? Nah, gimana kalo gw kasitau, bikin gituan aja udah susah buat anak S1 dan bisa ngelulusin orang? (note : dalam skala nasional ya, bukan cuma ngomongin kampus besar, kecuali kalo lu emg ga peduli sama kampus2 kecil).

Kalo ada yang jadi berpikir, “Lho, berarti lulusan S1 itu nggak bisa apa2 dong?” jawabannya adalah, well, yeah, SURE! Lu kira 4 tahun dah pinter? Dah bisa mengubah dunia? Lulus S1 bisa jadi Einstein??

Di sistem 3 jenjang, S1memang tidak disiapkan untuk mengerti dan bisa membuat sesuatu. S1 hanya disiapkan menjadi orang yang “bisa belajar apa saja ke depannya”. Ada yang bilang S1 itu cuma untuk membentuk pola pikiran sesuai bidang yang dia tekuni. Secara keilmuan sebenarnya tidak terlalu dalam. Makanya lulusan teknik itu nggak semuanya jadi insinyur. Banyak yang kerja di bank, pemerintahan, bisnis, jadi kuli, dll.; tergantung minatnya. S1 tekniknya itu cuma membentuk pola pikir logis agar bisa melangkah ke jenjang selanjutnya (kuliah atau kerja) dengan kepala dan t***t yang tegak terangkat mantap penuh keyakinan.

Kalau emang terus kuliah S2 atau S3 di disiplin ilmunya, ya dia bakal lebih fokus dan terarah sampai akhirnya bisa menghasilkan suatu karya yang ada kontribusinya bagi dunia ilmu pengetahuan. Itu susah, lho. Kalau cuma bikin sesuatu yg udah pernah dibuat orang lain (misal : mobil), ya jelas nggak ada kontribusinya bagi dunia ilmu pengetahuan. Wong cuma nyontek. Jadi ya nggak bisa jadi makalah jurnal ilmiah.

Kecuali kalau kamu Bill Gates, yang emang udah bisa nulis makalah jurnal ilmiah bermutu dari S1. Tapi coba, ada berapa Bill Gates di Mother Earth ini?

Bill : “Only one, Lads.”

Di negara maju di luar negeri juga ga ada yang disuruh nulis makalah jurnal. Di Korea paling report. Itu juga cuma 30 halaman. Lebih pendek dari laporan tugas akhir di Indonesia.

Di Korea bahkan lulusan S2 tidak diwajibkan menulis makalah jurnal untuk lulus, karena mayoritas mahasiswa S2 emang masih hanya belajar saja. Apalagi ada S2 profesi dan part-time, yang jelas2 hanya belajar. Nggak meneliti.

Nah, kalau di Korea, cara meningkatkan jumlah jurnalnya adalah memberi ‘tunjangan’ bagi orang yang berhasil menerbitkan karya di jurnal bermutu, baik dari jurnal terakreditasi nasional sampai jurnal internasional. Tidak ada kewajiban, tetapi makalah jurnal ilmiah yang terbit akan dihargai. Dengan begitu, peneliti2 terpacu dan berlomba2 membuat karya ilmiah.

Anak S1 emang nggak menerbitkan apa pun, tapi anak S3 nya bisa terbit 2 makalah jurnal internasional setahun, which is friggin’ impressive. Daripada buang2 uang bikin jurnal2 yg banyak tapi nggak jelas, kan, mendingan gini? Menurut saya, that is what is called a smart solution, a smart incentive. Alokasi dana yang cerdas dan jelas manfaatnya.

Although frankly speaking, making abominously expensive toilets and hire boobs & thighs to defend it is the smartest way humanity have ever found to spend money.

 

Bersambung ke halaman berikutnya…

Halaman: 1 2

Next »

Kegilaan Terkait

5 Alasan Bikin JURNAL ILMIAH Tidak Segampang Bacotnya Pemerintah

OMG! Tidak punya FB? Tetap tinggalkan komentar

  

  

  

Kamu dapat menggunakan tag HTML ini

<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

  • Diazzara Putri

    Benar sekali artikelnya. membuat jurnal itu bukan sekadar jurnal omplong (jurnal ngabas). karena merupakan kewajiban jadinya banyak sekali mahasiswa s1 yang membuat jurnal asal2 an. jujur saja saya ini mahasiswa semester 6 dan lagi bngung buat jurnal. sedangkan deadline dari kampus sudah ditentukan belum lagi tugas-tugas yang tidak kunjung selese #curhat. ah peraturan pemerintah memberatkan sekali..

  • AND

    Woalah ini malah ribet… masing2 punya pendapat sendiri, yg penting apa yg sudah kita lakukan sekarang? apa sudah bisa kontribusi kemajuan iptek…

  • bigdiamond

    kawan, menurut saya, membuat jurnal itu adalah ketika kita disuruh mencari ujungnya ilmu pengetahuan, mengangkat pagar yang membatasi, lalu dipindah ke tempat yang lebih luas. Kalau S1 itu, memang dirancang hanya untuk menerjunkan si mahasiswa ke tengah2 ilmu pengetahuan, yang belum keliatan pagarnya. biasanya jurnal dibikin anak s3. bisa S2 kalo jenius dan punya lab sendiri.

    kalo masalah jadi pengusaha sih oke2 saja. silahkan. kalau mau belajar juga silahkan. tidak adil kalo kita mempertengkarkan 2 hal, belajar dan bikin usaha, karena dua-duanya dapat dijalankan.

    silahkan diingatkan kalau ada kata2 yang salah

  • alasan nomor 1 dan 3 masuk akal, sisanya cuma nunjukkin penulisnya is a fucking pussy. jangan takut bikin paper lah. kalau gak dimulai dari sekarang, mau kapan? kalau bukan mahasiswa yang jadi contoh, mau siapa lagi? tentu, pasti banyak ‘korban’ dari kebijakan ini. bisa jadi gara-gara gak sempet nerbitin jurnal jadi gak lulus. tapi itu risiko yang harus diambil. dan gw rasa bakalan worth it bagi dunia pendidikan maupun bagi Indonesia sebagai bangsa.

    saran gw, bagi yang takut, mending berhenti kuliah dan duitnya dipake buat bikin usaha. takut menghadapi masalah di masa depan kan? hadapi aja masalahnya sekarang. kalau ngerasa syarat kelulusan ini gak realistis, maka jadikanlah diri sendiri realistis. bikin usaha itu real banget lho. real masalahnya, real juga duitnya. dan really, negeri ini kekurangan pengusaha.

  • Mahasiswa merantau

    Hi,
    Nice article!!!
    Sebagai tambahan..G ada gunanya punya jurnal banyak2 tapi kualitasnya zero..Artikel ilmiah itu yang penting kualitas bukan kuantitas. Kalau cuma submit jurnal abal2 sih mungkin bisa aja ya, apalagi kalau tiap kampus bikin majalah ilmiah sendiri, tapi, halo, what’s the point??
    Pengen tau, mereka ngerti gak sih yang namanya IMPACT FACTOR??Artikel ilmiah itu bukan jumlah yg penting tp kualitas, ada yg namanya CITATION INDEX!! kasarnya, mendingan publish 1 artikel ilmuah di nature atau science daripada publish 100 artikel di majalah asal2an..
    Lagian plis deh, penelitian anak s1 paling lama berapa bulan sih? setaun itu udh pol banget. Adanya malah entar di mata dunia, ohhh gini toh penelitian di Indonesia, ABAL ABAL..
    Saya gak pernah denger kalau anak s1 mesti publish article..Even in here

    Salam
    -dari mahasiswa yg lagi ambil phd di negeri orang-

  • humes

    Alasannya baru 2 om penulis blog.. Judulnya kan 5 alasan, yg 3 lg mana?
    Btw, sepokat kalo harusnya nulis itu jgn diwajibkn kek gt. Kesian yg kuliah di univ2 kecil di indonesia. Kalo yg kuliah di univ2 besar sih mgkn ga terlalu masalah, tp yg lain? Be wiser ajalah.. Jgn cm mikir mahasiswa yg ada di jawa aja, pikirin yg di luar jawa jg..

  • Gw komentarin yang komentar dulu deh. Sedih klo denger orang bilang : penelitian gak perlu biaya besar. Tanyalah pada anak MIPA, anak Teknik. Bisa puasa Daud supaya bisa bayar penelitian. Saya sendiri anak farmasi, sekarang sedang s2 dan lagi ruwet mikirin biaya thesis. Waktu s1, saya ruwet mikirin biaya tugas akhir (pake hewan lagi, dan makanan hewan2 saya itu, lebih mahal dibanding makan siang saya!).

    Sekarang, mau komentarin artikelnya. Keren banget! Ini juga yang terpikir oleh saya dan teman-teman waktu keputusan ini keluar. Saya heran dengan Dirjen Dikti ini, dari jaman dia jadi rektor, nyusahin hidup orang aja kerjanya. Sirik sama negara tetangga sih boleh, tapi harusnya pake logika. Ini kelakuan persis kayak ibu2, sirik liat tetangga punya kulkas baru, terus maksa suaminya yang gaji pas2an buat beli kulkas yang sama.

    Sekarang, biaya penelitian mahal. Udah gitu, setau saya, kalau mau masukin tulisan ilmiahnya ke jurnal, itu harus bayar juga. Siapa yang mau bayarin? Terus, proses peer review ini nggak cepet, ini mahasiswa2 mau kapan lulus? Terus, seperti kata Anda, tingkat sarjana memang cuma dibentuk pola pikirnya saja. Diarahkan, diajarkan supaya bisa meneliti. Makanya, topiknya mirip2, metodenya sami mawon juga gak ada masalah. yang penting dia bisa mengerti bagaimana caranya identifikasi masalah dan problem solving dengan melakukan tugas akhir.

    Kemarin di Mata Najwa, perwakilan Kemendikbud, malah bilang : jalani saja dulu, kita lihat apa yang terjadi, nanti direview lagi –> kira2 seperti ini, bisa cek twitternya MataNajwa.Gelo!

    Biasa lah, bangsa ini, terutama pejabat2nya, gelar aja boleh tinggi, tapi gak cerdas. Otaknya gak dipake (mungkin isinya jerami -____-)

    • qqwref

      Hei, maksud saya itu gak semua penelitian butuh biaya besar. Gak semua!! *gak nyantai*
      Ya jelas sih masih banyak penelitian yang butuh biaya gede.

  • tulisan bagus..kritis..apalagi sebagai oang terpelajar dan terdidik.
    sebenarnya kalo junal itu cm usulan atw saran dan bukan kewajiban bolehlah..
    tp yg saya sayangkan disini sebagai org tepelajar dan terdidik banyak kata2 s*it, b**ch dsb

    jadi: memang harusnya the f**king mentri pendidikan sudah benar menyarankan holys*it jurnal dan bukan s**t mewajibkannya. di fakultas saya, the holysh**t teknik juga gak setuju dg kebijakan ini saat wajib, tapi juga nggak ngelarang dumb b**ch mahasiswa untuk menulis f**king jurnal, tapi emang bener kayak di f**k korea deh..kalo ada f**king mahasiswa yang mau bikin f**kig junal dananya juga disediakan s**t pemerintah dong

  • Anonymous

    Istilah susah cuma ada di kamus orang MALAS. Gw gak percaya ada manusia terlahir sbg orang bodoh. Yang ada adalah malas membuat orang menjadi berlaku seperti orang bodoh. Kalo dlm sehari elo menghabiskan waktu elo 50% buat tidur, 35% buat nongkrong, maen, dan socmed, dan 15% persen buat belajar, yah wajar aja kl elo bilang bikin jurnal susah. Apalagi kl 1% buat belajar.

    • ini bukan masalah bodoh atau pintar coy,, ini masalah ketidakrealistisan. Not everybody is and can be bill gates or einstein (yang emang udah nemuin macem2 dari kecil). Kalo emang semua org kyk gitu, ga ada orang2 tolol kek lu yg ga bisa baca esensi artikel

    • humes

      ngatain orang malas tp ga berani tunjukin identitas.. takut dikeroyok ya? :D
      lagian, sok rajin amat lo ngatain orang lain malas..
      Zzzz… *tidur aja deh, udah terlanjur dibilang malas, hahahaha…

      • humes

        oh iyah, lagian yg bahas soal pinter / bodoh tuh siapa sih?
        kayaknya di 5 alasan yg dikemukakan ga ada yg nyorotin soal pinter / bodoh deh..
        baca lagi woy!!

  • Kalo mau buat paper murah bisa din. Banyak2 neliti waktu kuliah di luar negri, publis paper untuk syarat lulus aja, sisanya ntar publis kalo udah di Indonesia. :) )

    *tips mantap untuk para calon dosen*

  • fuckinglife

    @qqwref
    lah emang bener boy pake biaya besar, coba lu liat anak2 fakultas eksakta kayak MIPA, Teknik, IT
    temen gw aja terpaksa mesti beli dua lappie buat simulasi jurnalnya soal jaringan.
    belum lagi yang bikin penelitian soal SEO dan information retrieval yang ngebutuhin preprocessing sampe itungan harian. itu butuh resource komputer high end bro. simulasi awalnya aja bisa bikin tuh komputer ga tidur2 seminggu. dan buat dapetin tuh lappie dengan resource yang cukup, butuh biaya. kira2 mau ga kampus nanggung biayanya, mengingat jurnal nantinya jadi hak milik kampus.

    • qqwref

      Tergantung penelitiannya sih. Di bidang Computer Science, khususnya yang teoritis, banyak banget jenis penelitian yang tidak butuh biaya. Penelitian kualitatif sebagian besar tidak membutuhkan resource/biaya yang besar. Cukup dibutuhkan pemikiran dan waktu yang besar.
      Jadi, argumen saya bener dong, gak semua penelitian harus make biaya gede.

      • fuckinglife

        argumen apaan? statement lu interogatif gitu. bisa lu sebutin di ranah computer science yang teoritis ga butuh biaya besar yang mana? ngambil data latih dan data uji aja perlu dana lumayan om? perbandingan efektivitas sama efisiensi algoritma itu gak cukup dengan komparasi matematis aja bung. ada simulasi empirik yang bisa ngasih gambaran representatif soal komparasi antara dua algoritma. terus teoritis yang kayak gimana nih maksud lu? riset soal krimping kabel LAN?

        • qqwref

          Hmm, perlu saya kasih contoh paper yang tidak membutuhkan dana, atau mungkin link downloadnya?
          Saya punya beberapa teman (3-4) yang sudah publikasi paper dengan biaya relatif kecil. Kalau anda mau bukti sih.

          “perbandingan efektivitas sama efisiensi algoritma itu gak cukup dengan komparasi matematis aja bung. ada simulasi empirik yang bisa ngasih gambaran representatif soal komparasi antara dua algoritma.”
          Need to be more specific here. Simulasi empiris perbandingan 2 algoritma memangnya butuh biaya berapa besar? Saya pikir cuma butuh 1 komputer, which is, almost every CS students already have.
          Lagipula, riset soal krimping kabel LAN bukan hal yang salah juga kok buat dijadiin paper.
          btw ini kok semakin direply semakin mengecil fontnya :|

  • qqwref

    Woi, sejak kapan penelitian harus make biaya besar? your arbitrary assumption lack of evidence.

    • adindun

      kalau kata gw sih, riset kan macem2 yah. tp kl di bidang saya, nyaris gak mungkin kalau gda duit mas. mau baca buku? beli. mau simulasi aja? software bayar. mau liat2 state of the art riset? donlot jurnal orang butuh duit. mau eksperimen? mimpi aja kl yg sblom2nya gak sanggup. riset macam apa yg gak butuh duit besar mas?

    • qqwerqwer

      neliti omongan-omongan socrates ? pantes murah…

      di kampus, gw pinjem lab aja musti bayar 20.000, itupun fasilitasnya yang standar. Ada fasilitas spec tinggi, duitnya nambah lagi.

  • [...] menjual apapun, dari yang normal seperti apparel, makanan, dan gadget, sampai yang bizarre, seperti jurnal ilmiah dan segala macam surat aspal lainnya. Internet, segepok rupiah, dan muka tebal dapat membantu Anda [...]

  • [...] Terkait var addedComment = function(response) { //console.log('fbComments: Caught added comment'); [...]